|
Pertanyaan :
Assalamu'alaikum wr wb.
Kepada yth. pengasuh rubrik ACC UII
Saya xxx. Alumni UII dan wisuda tahun 2007. Saya sudah banyak mengikuti tes rekruitmen tenaga kerja. saya sangat ingin menjadi PNS tetapi selama ini selalu gagal. Saya hampir selalu sampai tahap wawancara bahkan dengan perbandingan setiap 2 pelamar diambil 1 tetapi selalu berhenti di tahap ini saja. Saya sekarang melanjutkan kuliah di UII lagi dengan mengambil pendidikan profesi akuntansi dengan harapan nanti ketika melamar CPNS saya lebih diprioritaskan. Pertanyaan saya:
- Bagaimana saya mengatasi kecemasan saya terhadap masa depan saya terkait pencarian pekerjaan yang tidak ada kepastian? Apalagi usia saya sudah 28 tahun.Untuk mengikuti tes cpns (tentu saja setelah moratorium cpns ini selesai), saya tinggal punya kesempatan 3 kali lagi.
- Saya juga melamar pada perusahaan swasta tetapi gaji nya hanya 1 juta sehingga saya tidak jadi menerimanya karena percuma saja saya bekerja, untuk kehidupan sehari-hari seperti kos dan biaya makan saja kurang, apalagi bisa menabung. Salahkah pemikiran saya ini?
- Saat ini saya bekerja sebagai dosen di sebuah PTS di yogyakarta. Gajinya sangat minimal sekali bahkan bukannya saya dapat uang, kalau di kalkulasi dengan biaya pengeluaran saya, saya malah defisit. Setiap kali saya pergi mengajar, saya harus mengeluarkan biaya bensin Rp 70.000,- untuk pulang pergi (dengan mengendarai mobil karena cukup jauh, agar tidak kena angin). Sedangkan honor yang saya dapatkan, tidak sampai Rp30.000,- untuk satu hari, dan itupun sudah 2 matakuliah (6 sks). Berarti saya bukannya bekerja dan mendapatkan uang tetapi bekerja dan mengeluarkan uang. Di luar biaya transportasipun, ilmu yang saya transfer pun sama sekali tidak dihargai. Waktu, tenaga dan pikiran saya seolah tidak ada artinya. Menurut Bapak/Ibu pengasuh rubrik ini, apakah saya sebaiknya resign aja dari pekerjaan saya ini??? Saya sedang mempertimbangkan dan mengambil keputusan untuk per januari 2012 nanti setelah ujian akhir semester selesai.Saya juga ada ketakutan, bila keluar saya tidak punya status pekerjaan (pengangguran) meskipun kl tetap punya status kerja saya hanyalah pengangguran terselubung. Bagaimana saya mengatasi hal ini???
- Saya sekarang benar-benar merasa di persimpangan jalan, dan tidak tahu jalan mana yang seharusnya saya tempuh. Bagaimana mengatasi kondisi batin dan pikiran saya yang semrawut seperti ini?
Terimakasih banyak. Saya tunggu balasannya. Wassalam wr wb.
Hormat saya,
xxxx
Jawaban :
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Yth. xxxx Sebelumnya saya mohon maaf karena terlambat membalas email anda.
InsyaAllah saya memahami sekali apa kerisauan yang sekarang sedang meliputi perasaan anda. Berikut ini pendapat dan saran yg dapat saya berikan:
- Sejauh dari penjabaran yang anda berikan, kecemasan anda terhadap ketidakpastian yang anda rasakan sangat bisa dipahami dan masih dalam batasan wajar. Pada titik ini juga sebenarnya menunjukan betapa kita (manusia) tidak kuasa berbuat apa-apa. Kita hanya mampu merencanakan, namun tidak pernah bisa dan benar-benar bisa memastikan apa yang akan terjadi. Oleh karenanya, memasrahkan semuanya pada Yang Kuasa atas ketidakberdayaan kita dan berbaik sangka atas apa pun yang diberikan oleh-Nya merupakan sebuah kebutuhan karena Dia-lah sebaik-baik tempat bersandar. Di sisi lain, berupaya keras dan cerdas merupakan aplikasi dari keberdayaan atas kemampuan dan potensi yang kita miliki. Saya sendiri menghargai sekali cita-cita besar anda untuk bekerja sebagai PNS, tapi saya pikir anda mungkin perlu mempersiapkan alternatif pekerjaan lain apabila cita-cita menjadi PNS nanti tidak dapat terwujud. Ketidakpastian adalah "sifat" dari masa depan, oleh karena itu penting bagi kita untuk selalu menyiapkan lebih dari satu rencana dalam hidup. Jika plan A gagal, maka saatnya beralih ke plan B, jika plan B gagal, sesegera mungkin juga beralih ke plan C yang sudah kita siapkan. Begitulah, hidup kita di masa depan cuma bisa "dipastikan" dengan cara menyiapkan rencana-rencana cadangan.
- Saya pikir anda tidak salah memiliki pemikiran seperti itu. Karena pemikiran tersebut menurut saya memang realistis adanya.
- Mungkin ada baiknya jika anda menanyakan dan memeriksa kembali tujuan anda dalam mencari dan menjalani sebuah pekerjaan. Apakah jenis pekerjaan yang anda cari atau sedang anda jalani ini sesuai dengan minat pribadi anda? Apakah kemampuan anda juga mendukung jenis pekerjaan tersebut? Dan berbagai bentuk pertanyaan lainnya. Sementara saran pribadi saya, anda tidak dulu resign sebelum anda mendapat pekerjaan baru. Karena rezeki yang Allah berikan kepada kita itu tidak selalu dalam bentuk materi. Namun bisa saja berbentuk pembelajaran dan pengalaman, yang mungkin akan berguna bagi pekerjaan anda selanjutnya, atau kehidupan anda secara keseluruhan.
- Seperti saran saya pada poin 1, anda barangkali perlu segera menyiapkan rencana-rencana cadangan dalam hidup untuk jenis pekerjaan yang kelak akan anda pilih. Setiap orang pasti menginginkan yang terbaik untuk dirinya. Maka apa pun yang anda pilih, ambilah yang membawa anda pada kebaikan. "Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah nafkah dengan cara yang baik, karena sesungguhnya seseorang sekali-kali tidak akan meninggal dunia sebelum rezekinya disempurnakan, sekalipun rezekinya terlambat (datang) kepadanya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram." (HR. Ibnu Majah no. 1743 dan Ibnu Majah II: 725 no. 214).
Demikian tanggapan dari saya, semoga bermanfaat. Seiring doa saya semoga Allah senantiasa menyelimuti hidup anda dengan semangat kerja keras, kesabaran dan jiwa yang pantang menyerah hingga kebahagiaan dan kesuksesan menjadi milik Anda, amiin..
Salam, Ike Agustina
|